Showing posts with label Fakta. Show all posts
Showing posts with label Fakta. Show all posts

Thursday, February 12, 2009

Purwanti, Kisah Sedih Seorang TKW

Purwanti, Ini bukanlah judul sinetron semacam Intan, Wulan, Mawar, Candy, Soleha, Aisya, Entong ataupun Eneng. Purwanti adalah nama seorang wanita dari Lampung, cantik iya, tapi sungguh ironis kehidupannya.

Dimulai ketika saya bertandang ke rumah salah seorang teman saya, Mas Deddy di daerah Kebagusan Ragunan. Mas Deddy memperlihatkan foto-foto ketika dia ke Hongkong, dalam rangka menjenguk, mengadvokasi, dan membantu para TKW yang sedang “bermasalah”.

Kemudian saya terpaku dengan sosok perempuan muda, cantik, putih dan berjilbab.

“Ini siapa, Mas?” tanya saya

“Oh itu, Namanya Purwanti, dari Lampung” Jawab Mas Deddy

“Umurnya berapa” tanya saya lagi

“Sekitar 25an lah, emang kenapa, San? Cantik ya?” Mas Deddy balik nanya

“Iya…”

Mas Deddy-pun bercerita….

Diceritakan Purwanti adalah salah seorang TKW dari Indonesia yang bekerja di Hongkong. Purwanti kalau bekerja di majikannya lepas jilbab, majikan dia melarang Purwanti mengenakan jilbab, ironisnya Purwanti sholat di kamar mandi (atau tempat tak layak lain, itupun selagi ada kesempatan) majikan Purwanti sangat sangat melarang Purwanti untuk sholat. Tapi ketika dia keluar rumah untuk bertemu dengan teman-teman TKW lain, Purwanti mengenakan jilbab.

”Terakhir aku ketemu dia, dia lagi ada masalah dengan tuannya lhoo…” Tambah Mas Deddy, ”Selain itu dia juga sering membantu BMI (bahasa lain TKW di Hongkong) lain yang sedang bermasalah”

Itulah gambaran kecil tentang TKW di luar sana, mungkin ini bukanlah cerita baru, tapi kali ini saya baru dengar dari teman saya sendiri.

Apalagi beberapa hari kemarin, ketika saya di Angkot D.01 (Bayoran – Ciputat) saya mendengar dari mantan TKW sendiri, sebut saja Winda. Winda 15 bulan di Malaysia, 3 Bulan bekerja, 12 bulan dia berusaha melarikan diri dari majikan dan kembali ke Indonesia. Saya diperlihatkan bekas lukanya di lengan kanannya, goresan merah yang masih nampak jelas jahitannya. Winda dianiaya majikannya karena dia memakai sarung tangan ketika mengiris daging babi. Majikannya marah dan menggores tangan Winda dengan pisau.

Itulah salah dua dari contoh TKW-TKW. Saya kemudian membayangkan tidak hanya Winda dan Purwanti yang mengalamai kejadian itu, bahkan lebih parah. Bagaimana tanggapan Pemerintah tentang TKW ini? Sudah bukan hal yang baru ketika TKW pulang kembali ke Indonesia karena dianiaya majikan, bahkan pulang ke Indonesia tinggal dikubur aja, Astaghfirullah….

Luka di Champs Elysees


Judul novel: Luka di Champ,s Elysees
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House, Jakarta, 2008
Tebal : 190 halaman


PARIS. Menara Eiffel. Kota impian semua orang. Di negeri penuh gemerlapan ini ternyata tak selamanya indah. Terutama bagi tenaga kerja wanita asal Indonesia yang berteduh di sana. Bukankah TKW Indonesia disedot oleh negara Timur-Tengah, Malaysia, Korea, dan Hongkong? Memang ada TKW di Eropa? Novel perdana karya Rosita Sihombing akan menjawabnya.

Novel ini adalah kisah nyata seorang TKW asal Indonesia yang malang-melintang di Paris. Sikrit sapaan akrab Rosita tidaklah sulit menemui mereka. Selain jumlahnya banyak, mereka memiliki komunitas sendiri. Pada tanggal tertentu berkumpul di bawah Menara Eiffel, lambang kota Paris. Arisan, curhat, dan saling berbagi. Gaya dan dandanan mereka unik menyesuaikan dengan tren mode di kota Paris. Wow

Rosita membutuhkan waktu empat tahun menyelami kehidupan para TKW di negeri pusatnya mode dunia ini. Kehidupan TKW Indonesia penuh dengan haru-biru. Penyebab utamanya, keberadaan mereka ilegal. Mereka, sebenarnya TKW di Timur Tengah. Beruntung memiliki majikan kaya-raya membawa liburan pelesir ke Paris. Kesempatan itu dimanfaatkan para TKW melarikan diri. Mereka ingin terlepas dari penyiksaan, pemerkosaan, rodi, dan upah tak dibayar dari majikan. Selanjutnya berharap bisa menata hidup lebih baik. Tapi, kenyataannya semakin memprihatinkan. Terlunta-lunta di negara kaya-raya, nan ketat dengan aturan.

Novel Luka di Champ,s Elysees berkisah tentang Karimah --Muslimah Indonesia yang bekerja di Riyadh. Karimah sebagai baby sitter, mengasuh Nassar (4 tahun) dan Omar (11 bulan). Majikan pria pengusaha sukses sering ke luar kota dan luar negeri. Sedangkan majikan perempuan, parasnya cantik, tapi malas bekerja. Yang menyakitkan, dia sering main tangan hingga menimbulkan bekas. Kekasaran panggilan majikan perempuan- yang membekas di hati Kari.

Musim semi 2005, majikan pria, Alkahtani mengajak sekeluarga liburan ke Paris. Dari tiga tenaga kerja di rumahnya, Kari yang dipilih mendampingi majikan. Sejak masih di Riyadh, Kari sudah merencanakan kabur setiba di Paris. Dia berharap bisa bertemu teman sekampungnya yang lebih dulu kabur ke Negara Napoleon itu.

Tiba di Paris, Kari mulai ancang-ancang mencari waktu yang tepat. Momen yang tepat, saat kedua majikannya sibuk memilih mainan untuk Nassar, Omar terlelap di kereta bayi. Kari melepaskan kerudungnya, menyelinap di antara pembeli yang memadati toko pusat mainan. Berhasil.

Dia terus berlari melewati Jalan Champ,s Elysees, di kawasan favorit wisatawan. Berlari entah ke mana. Dia tersungkur, terguling-guling, darah menetes dari kaki kanannya. Kakinya sulit digerakkan. Minta tolong dengan siapa? Jangankan mengucapkan kata-kata, mendengar bahasanya saja sulit dimengerti. Pelarian terhenti di Stasiun Metro Charles de Gaulle Etoile. Kari pingsan hingga ditemukan Hamed. Selanjutnya, Hamed menjadi dewa penolong sekaligus teman hidup Kari. Dia warga negara Aljazair yang hidup ilegal pula di Paris. Kerjanya serabutan.

Inilah sisi nyata yang ingin digambarkan Rosita. Kehidupan TKW ilegal Indonesia memilih hidup bersama dengan pria-pria Magreb (warga keturunan Aljazair, Maroko, Tunisia), India, atau Pakistan. Namanya menumpang, mereka harus melayani apa pun keinginan teman hidup bersamanya. Tak jarang kekerasan fisik dan hinaan menghinggapi para TKW. Namanya pendatang ilegal, pekerjaan yang didapat pun ilegal. Menjadi cleaning service, pembantu, baby sitter, atau perempuan jalanan. Getir-getir kesedihan tak seindah gemerlap lampu-lampu di Menara Eiffel di malam hari.

Penderitaan bertambah ketika Kari mengandung hasil hubungan dengan Hamed. Malam dingin menusuk, bayi bergerak-gerak ingin segera keluar. Tanpa Hamed, Kari tertatih-tatih menelusuri jalan, naik metro menuju rumah sakit. Sakit perut dan kegundahaan terus melanda. Bagaimana jika bertemu polisi, menanyakan identitasnya? Di rumah sakit petugas administrasi pasti menanyakan pula identitas dirinya. Bagaimana jawabnya, nanti saja. Yang pasti si orok sudah berontak.

Lahirlah si cantik Maharani. Bayi mungil ini membawa kebahagiaan. Hamed datang ketika semuanya sudah beres. ''Ke mana saja kamu selama ini?!'' Hamed meminta maaf. Tapi, tak ada artinya. Pertengkaran kembali memuncak. Hamed tidak terima nama anaknya didaftarkan tanpa mencantumkan nama 'ayah'. Alasan Kari lebih karena emosi, kemana 'ayah'-nya saat dia bertaruh nyawa mengeluarkan bayi mungil dari rahim?

Jerit tangis Maharani tak meredakan keegoisan kedua orangtuanya. Hamed semakin emosi, mendorong Kari yang sedang menggendong Maharani. Ibu dan anaknya terjatuh tersungkur. Tangis Maharani terhenti, dan tak bergerak lagi. Bayi cantik itu meninggal.

Kesedihan masih terus bergelayut. Kari memutuskan berpisah dengan Hamed. Dia menumpang dengan sobatnya Enah yang tinggal bersama dengan pria asal India. Setiap Enah pergi, Kari ikut pergi. Dia tak mau ditinggal bersama pasangan Enah yang 'nakal'.

Titik kebahagiaan tiba ketika Kari bertemu Imel, WNI legal yang tinggal di Paris. Imel sebagai dewi penyelamat yang bisa mengembalikan kebahagiaan Karimah. Kari kembali berkerudung, berkumpul dengan suami aslinya, Pardi, dan anak semata wayangnya, Tari.

Selembar surat terselip di saku baju Kari. Dari Hamed, isinya ungkapan maaf dan pengakuan dirinya selama ini sudah memiliki istri dan anak di Aljazair. Ternyata Hamed lebih jujur dibandingkan Kari yang juga meninggalkan anak dan suami di Tanah Air.

Peluncuran novel Luka di Champ,s Elysees, Ahad (14 Desember 2008). Rosita sengaja terbang dari Paris menuju Jakarta. Menurut dia, di novel ini ia sengaja mematikan Maharani dan membuat Karimah berbahagia di akhri cerita. Walaupun kenyataan kata bahagia jauh dari harapan para TKW: Kehidupan ibu dan anak di Paris sama-sama menderita.

Novel yang dihiasi kata-kata Prancis ini cukup sederhana, namun menarik. Bahasanya mengalir, enak dibaca, dan penuh makna. Banyak pengetahuan berkenaan Paris yang diketahui dari novel ini. Pembaca pun bisa belajar kalimat-kalimat sederhana Prancis. Tergambarkan kalau Rosita sangat menguasai hingga detail lekuk-lekuk Paris. Nama-nama jalan, taman, rute-rute bus mencerminkan kalau penulis lama berkecimpung di Paris.

Rosita memang tinggal di Paris. Dia menetap di Paris, sejak menikah dengan suaminya Patrick Monlouis, asal Paris. Kini dikarunia seorang putra berusia 3,5 tahun. Bagi Rosita, Paris menjadi kota kedua, setelah Tanjungkarang, Lampung, kota kelahirannya. vie

Sumber: Republika, Minggu, 04 Januari 2009

Kisah Si Mbak TKI

Hummmh, hari gini kok ngelamun aja ya?? Padahal harusnya gw udah mulai sibuk do somethin new.. Tapi gw bersyukur sampai saat ini, gw masih bisa enjoy with my daily activities..Thanx God, gw udah punya ponakan yang lucu banget, jadinya di rumah ga sepi2 amat… ^.^

Ngomong-ngomong soal lowongan kerjaan, mengapa banyak bener yang harus experienced gituh…sekalinya yang nerima fresh graduate kebanyakan outsourcing.. Tapi gw masih bersyukur lagi, soalnya gw masih bisa kok nikmatin jadi job seeker ^.^ Alhasil buat ngisi waktu, gw ambil kelas English lagi de hueheu..masih blebetan iki aku mas mbak…you know I know What do I do miss u very much lah…ngerti ta artine??? Ok, kembali ke LAPTOP!(mas tukul hwebat!)

Oia, gw kemaren baru dapet info baru dari tetangga gw tentang modus kriminal baru yang dialamin sama TKI di Arab sana. Mungkin kalian udah banyak yang tau, gini nih katanya disana udah mulai banyak TKI yang jadi korban perampokan tingkat tinggi. Awalnya, si mbak TKI yang notabene background pendidikannya pas-pasan banget dikasih minum sama majikannya. Padahal di minuman itu udah dikasih obat, nah otomatis mbak TKI itu kan pusing-pusing gitu. Terus si Mbak TKI dibawa ke RS deh sama majikannya, dan setelah diperiksa sama dokter katanya si Mbak TKI itu kena penyakit cancer dan harus cepet-cepet dioperasi. Nah Mbak TKI yang liat tulisan CANCER itu bingung dan takut dong, akhirnya si majikan dengan baik hatinya menawarkan ke Mbak TKI untuk membantu membiayai semua prosesnya. Akhirnya Mbak TKI setuju! Kemudian teman-teman sebangsa dan setanah air, setelah sadar si Mbak TKI dikasih tau oleh seorang suster yang baik hati bahwa sebenarnya si Mbak TKI itu sehat wal’afiat dan operasi tadi adalah proses perampokan besar-besaran. Gimana nggak besar-besaran, lha wong ternyata ginjalnya si Mbak TKI itu diangkat trus diambil buat dijual sama majikannya tanpa ijin gitu. Dan alhasil si Mbak TKI terkapar tak berdaya serta tak berduit ketika kembali ke tanah air Indonesia. Si majikan nggak ngasih gaji, alesannya gajinya udah dipake buat biayain operasi si Mbak TKI itu. Betapa malang si Mbak TKI itu, berniat untuk menambah pemasukan keluarga justru menambah pengeluaran keluarga.

Miris rasanya hati gw denger kabar seperti itu, Indonesia oh Indonesia…. Tapi gw sendiri juga belom bisa berbuat sesuatu untuk Negeriku… lebih miris ternyata..


Sumber

Saturday, January 24, 2009

Potret Buram TKI

Sudah jatuh tertimpa tangga. Demikian ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan nasib buruh migran kita di luar negeri. Mereka menjadi korban tiga kali.

Pertama, mendapat tindak kekerasan. Kedua, tiada kebebasan untuk melakukan perlawanan. Ketiga, tak adanya atau minimnya jaminan perlindungan, baik dari negara tujuan maupun pemerintah Indonesia.

Kekerasan demi kekerasan terhadap para buruh tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sepertinya menjadi cerita panjang yang tak pernah usai. Kasus terbaru menimpa Sukasih, TKI asal Jatim, yang terjatuh dari balkon lantai empat sebuah apartemen di Tengkera, Malaka, Malaysia.

Seperti di lansir harian Malaysia The Star (23/9/2008), Sukasih terjun bebas dan sebuah apartemen. Dia terpeleset saat memanjat pagar balkon. Jatuhnya Sukasih ini diduga lantaran menghindari kejaran polisi Diraja Malaysia karena yang bersangkutan tidak memiliki dokumen resmi. Sukasih dilarikan ke Malacca Hospital. Namun, dua jam kemudian nyawanya tidak tertolong lagi.

Selang beberapa muncul kasus baru, yakni terkatung-katungnya nasib jenazah TKI Jatim yang belum bisa dipulangkan ke Indonesia. Adalah Siti Tarwiyah, seorang TKI asal Bilitar, yang kematiannya diduga tidak wajar. Menurut Direktur Migran Care, Anis Hidayah, Siti Tarwiyah sudah meninggal 50 hari lalu. Namun, sampai saat ini belum bisa dipulangkan karena terbentur birokrasi di Arab Saudi yang ribet dan berbelit-belit. Sudah meninggal saja para TKI kita sangat diperlakukan tidak manusiawi, apalagi ketika masih hidup (Radar Surabaya, 24/9/2007) Korban kekerasan

Dari sekian banyak TKI yang bekerja di luar negeri, sebagian besar TKI berpotensi menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan fisik, psikis, dan ekonomi. Dan memang sebagian besar korban kekerasan terhadap TKI di luar negeri adalah kaum perempuan. Dan saat ini sudah ada ratusan, bahkan ribuan TKI, yang menjadi koran tindak kekerasan di luar negeri, baik TKI yang masih bertahan di luar negeri maupun yang sudah kembali.

Sebagian besar TKI yang pulang akibat tindak kekerasan majikannya dalam kondisi fisik dan psikis yang sangat memprihatinkan. Bahkan, ada yang sampai meninggal dunia. Berangkat dalam keadaan hidup, pulang dalam kondisi meninggal. Nasib TKI sungguh sangat mengenaskan. Namun, semakin banyak kasus kekerasan terhadap TKI, sepertinya bagaikan tontonan yang tak pernah mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang memadai dari pihak Pemerintah Provinsi Jatim.

Persoalan perlindungan terhadap TKI di luar negeri dinilai masih sangat rendah. Ini ditunjukkan dengan munculnya berbagai persoalan yang menimpa TKI di luar negeri tanpa mendapat advokasi dan perlindungan yang memadai. Bahkan, perbagai persoalan yang menimpa TKI cenderung dibiarkan begitu saja. Yang paling parah menimpa TKI.

Selain masalah upah yang tak dibayar atau tidak sesuai standar ketenagakerjaan, persoalan yang sering kali dialami adalah masalah kekerasan. Sebagian besar TKI mendapat perlakuan dan tindakan kekerasan, baik kekerasan fisik, psikologis, maupun kekerasan seksual dari keluarga majikan.

Menurut catatan Migran Care, pada tahun 2007 ada sekitar 61 TKI yang meninggal di luar negeri, sebanyak 28 TKI mengalami perlakuan tindak kekeraan, dan 56 TKI terancam hukuman cambuk atau mati. Bahkan, ada beberapa TKI yang dituduh membunuh majikannya.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa pembunuhan tersebut dalam rangka membela diri. TKI yang bersangkutan sebelumnya terus menjadi korban kekerasan dari majikan dan anaknya, terutama kekerasan seksual (baca: pemerkosaan).

Pahlawan devisa

Pengakuan akan sumbangan besar TKI bagi perekonomian tak mampu mengubah nasib mereka, terutama para TKI yang tidak terdidik dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kondisi para TKI tak terdidik di luar negeri bagaikan "budak" yang mudah dipermainkan dan diperlakukan sewenang-wenang.

Ironisnya, kasus kekerasan terhadap TKI di luar negeri ini tak pernah berhenti atau setidaknya berkurang, justru kasusnya semakin membengkak. Kekerasan terhadap TKI di luar negeri akhirnya menjadi "menu bulanan" kita. Dan yang paling memprihatinkan lagi, perlindungan dari pemerintah yang dinilai sangat rendah.

Pemerintah seperti mau enaknya saja dalam memperlakukan para TKI di luar negeri. TKI bagaikan habis manis sepah dibuang. Hanya ambil manisnya, ampasnya dibuang. Padahal, secara ekonomi, sumbangan devisa TKI di luar negeri sangat besar.

Menurut catatan Migran Care, secara ekonomi dalam setahun sumbangan devisa TKI diperkirakan Rp 68 triliun. Angka itu luar biasa besarnya, tetapi perlindungannya luar biasa kecilnya. Untuk Jawa Timur, pada tahun 2006 jumlah kiriman uang dari TKI Jatim di luar negeri mencapai Rp 2,565 triliun.

Meskipun sudah ada perjanjian bilateral antara pemerintah dan negara tujuan penempatan TKI, mengapa tindak kekerasan terhadap TKI tak kunjung berhenti atau setidaknya berkurang. Selama ini pemerintah masih sebatas atau sekadar melakukan perjanjian pada tahap "penempatan" saja, belum menyentuh secara konkret terkait persoalan sosial dan hukum yang menimpa para TKI, terutama masalah perlindungan atau advokasi sosial dan hukum.

Karena itu, ke depan, Pemerintah Indonesia harus tegas dan jelas dalam melakukan perjanjian bilateral terkait dengan pengiriman TKI. Perlu ada jaminan dan perlindungan hukum yang konkret di atas kertas. Selain itu, juga perlu ada seleksi yang lebih ketat dalam masalah pengiriman TKI, terutama dalam hal kualitas SDM.

Rofi' Munawar Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, dari PKS


Sumber

Definisi TKI Wikipedia

Tenaga Kerja Indonesia (disingkat TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun demikian, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. TKI perempuan seringkali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW).

TKI sering disebut sebagai pahlawan devisa karena dalam setahun bisa menghasilkan devisa 60 trilyun rupiah (2006) [1], tetapi dalam kenyataannya, TKI menjadi ajang pungli bagi para pejabat dan agen terkait. Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta, mereka disediakan terminal tersendiri (terminal III) yang terpisah dari terminal penumpang umum. Pemisahan ini beralasan untuk melindungi TKI tetapi juga menyuburkan pungli, termasuk pungutan liar yang resmi seperti punutan Rp.25.000,- berdasarkan Surat Menakertrans No 437.HK.33.2003, bagi TKI yang pulang melalui Terminal III wajib membayar uang jasa pelayanan Rp25.000. (saat ini pungutan ini sudah dilarang)

Pada 9 Maret 2007 kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan TKI di luar negeri dialihkan menjadi tanggung jawab BNP2TKI. Sebelumnya seluruh kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dilaksanakan oleh Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Depnakertrans.

Kasus

Beberapa kasus yang melibatkan TKI:

Ceriyati

Ceriyati adalah seorang TKW di malaysia yang mencoba kabur dari apartemen majikannya. Ceriyati berusaha turun dari lantai 15 apartemen majikannya karena tidak tahan terhadap siksaan yang dilakukan kepadanya. Dalam usahanya untuk turun Ceriyati menggunakan tali yang dibuatnya sendiri dari rangkaian kain. Usahanya untuk turun kurang berhasil karena dia berhenti pada lantai 6 dan akhirnya harus ditolong petugas Pemadam Kebakaran setempat. Tetapi kisahnya dan juga gambarnya (terjebak di lantai 6 gedung bertingkat) menjadi headline surat kabar Indonesia serta Malaysia, dan segera menyadarkan pemerintah kedua negara adanya pengaturan yang salah dalam pengelolaan TKI.

Pungutan Liar di KBRI/KJRI Malaysia

Para warga negara Indonesia yang ingin memperoleh pelayanan keimigrasian dimana kebanyakan dari mereka adalah TKI yang bekerja di Malaysia, dibebani tarif pungutan liar. Modusnya adalah terbitnya SK/Surat Keputusan ganda, untuk SK pungutan tinggi ditunjukan sewaktu memungut biaya, sedangkan SK pungutan rendah digunakan sewaktu menyetor uang pungutan kepada negara. Pungli ini berawal dari PPATK yang mencium aliran dana tidak wajar dari para pegawai negeri di Konjen Penang pada Oktober 2005, dikemudian hari terungkap, pungutan serupa juga terjadi di KBRI Kuala Lumpur. Pungli ini menyeret para pejabat ke meja hijau, termasuk mantan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Hadi A Wayarabi,Erick Hikmat Setiawan (kepala KJRI Penang) dan M Khusnul Yakin Payapo (Kepala Subbidang Imigrasi Konjen RIPenang).[2] Erick Hikmat Setiawan divonis 20 bulan penjara.[3]

Pemotongan Gaji Ilegal

Hampir semua TKI atau buruh migran Indonesia mengalami potongan gaji secara ilegal. Potongan ini disebutkan sebagai biaya penempatan dan "bea jasa" yang diklaim oleh PJTKI dari para TKI yang dikirimkannya. Besarnya potongan bervariasi, mulai dari tiga bulan sampai tujuh, bahkan ada yang sampai sembilan bulan gaji. Tidak sedikit TKI yang terpaksa menyerahkan seluruh gajinya dan harus bekerja tanpa gaji selama berbulan-bulan. Praktik ini memunculkan kesan bahwa TKI adalah bentuk perbudakan yang paling aktual di Indonesia.

Saturday, January 3, 2009

Empat TKI Kediri Tewas Selama 2008

Jakarta, BNP2TKI (Jumat, 02/1) Empat orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Kediri, Jatim, diketahui tewas saat bekerja, selama kurun waktu satu tahun terakhir 2008, lebih kecil ketimbang tahun 2007 yang tercatat lima kasus TKI meninggal. "Jumlah itu yang masuk ke kantor kami, data secara resmi, tapi yang tidak resmi kami tidak tahu," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kediri, Dwi Bratawahyana, Jumat (02/1).

Ia mengaku, tidak tahu persis TKI ilegal yang meninggal di luar negeri. Sebab, data mereka yang masuk ke dinas adalah pekerja dengan jalur resmi. Pihaknya memperkirakan, jumlah TKI yang meninggal karena masuk tidak resmi lebih dari itu.

"Jalur mereka tidak secara resmi, sehingga kami tidak dapat memantau. Tentunya, kami kesulitan untuk melakukan cek, tapi kemungkinan lebih besar," katanya.

Ia menyebutkan, empat TKI yang meninggal dunia selama tahun 2008 itu adalah Anisah Suryatin, TKI asal Desa Tugu, Kecamatan Purwoasri, yang meninggal di Malaysia karena sakit.

Sementara TKI kedua adalah Suratin, warga Desa Duwet, Kecamatan Wates, yang meninggal dunia saat bekerja di Taiwan, ketiga adalah Agus Susanto, warga Dusun Wonorejo, Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung, yang tewas di Malaysia, dan terakhir adalah Yuni Rahmawati, asal Dusun Dawung, Desa Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, yang tewas di Singapura.

Ia menjelaskan, kasus kematian terakhir TKI yang menimpa Yuni, terjadi pada 18 Desember 2008 lalu. Ironisnya, dia baru saja berangkat bekerja, tepatnya 2 Desember 2008.

Menurut berkas dari Singapura, korban diketahui bunug diri dengan cara gantung diri di dalam rumah majikannya, Wong Poh Tze, yang beralamat di Jalan 30 Pulasan Road Singapore 424400, Singapura.

Tidak jelas, penyebab korban nekat bunuh diri dengan cara yang tidak wajar tersebut. Bahkan, pihak dinas juga mengaku tidak tahu menahu penyebabnya.

"Tapi, jika ada laporan keluarga terjadi kematian yang tidak wajar, diharapkan mereka melaporkan dan kami akan berusaha untuk mencari penyebabnya," katanya berjanji.

Walaupun begitu, pihaknya tidak dapat menjamin dapat mengetahui penyebab pastinya korban meninggal dunia. Ia mengaku, hanya dapat mengupayakan untuk mencari informasi dan mengupayakan memberikan santunan.

"Dari Pemkab Kediri sudah memberikan anggaran untuk santunan. Kami akan memberikannya, tapi dipastikan dulu dia mengikuti jalur secara resmi, jika tidak resmi atau ilegal, kami tidak dapat mengupayakan. Bagaimana dengan pertanggungjawabannya," katanya.

Menurut dia, pihaknya selalu mengupayakan agar warga yang bekerja ke luar negeri mengikuti jalur secara resmi. Sehingga, jika terjadi masalah, pihaknya dapat membantuk untuk mencari jalan keluar, termasuk meminta pertanggungjawaban PJTKI terkait dan juga majikan bersangkutan. (Ant)

Sumber : http://www.bnp2tki.go.id/content/view/801/231/

Design by Free blogger template