Showing posts with label TKI Timur Tengah. Show all posts
Showing posts with label TKI Timur Tengah. Show all posts

Saturday, January 24, 2009

TKW Umi Saodah Yang Terjebak di Jalur Gaza, Telah Berhasil Dievakuasi ke Cairo

Setelah melalui koordinasi yang cukup intens antara KBRI Cairo dengan pihak-pihak terkait di Indonesia, Mesir dan Palestina, akhirnya pada Kamis (22/01/09), Sdri. Umi Saodah, TKW yang terjebak di Jalur Gaza, berhasil di evakuasi oleh Tim KBRI Cairo. Pada pukul 18.00 waktu setempat, Umi Saodah diserahterimakan dari Mr. Abu Ja’far (Komite Rekonsiliasi Palestina/Ikatan Ulama Palestina) kepada Counsellor KBRI Cairo, Muhammad Abdullah di pintu perbatasan Rafah Mesir.

Dimulai dengan komunikasi yang cukup panjang antara pihak KBRI Cairo dengan Bulan Sabit Merah Palestina, dan setelah memperhatikan situasi yang dinilai cukup kondusif dengan berlakunya gencatan senjata di Gaza, Dubes RI Cairo memerintahkan tim evakuasi untuk segera menuju Rafah, Mesir pada Selasa (20/01/09). Rencananya, tim bermaksud untuk memasuki Jalur Gaza Palestina, namun aparat berwenang Mesir tidak mengijinkan karena alasan keamanan. Hal ini memaksa KBRI Cairo melakukan koordinasi kembali dengan berbagai pihak terutama untuk memastikan lokasi keberadaan Umi Saodah dan melakukan negosiasi kemungkinan evakuasi.

Koordinasi intens juga dilakukan dengan pihak kehakiman di Gaza guna memastikan ijin evakuasi, mengingat status Umi Saodah masih dalam proses hukum dan tidak memiliki dokumen perjalanan. Dalam proses ini, nama harum Indonesia sebagai pendukung tradisional Palestina, berikut tingginya solidaritas dan semangat masyarakat Indonesia dalam membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina menjadi salah satu kunci yang memudahkan evakuasi Umi Saodah ke Cairo.

Selama proses evakuasi tersebut, KBRI Cairo dibantu berbagai pihak antara lain Bulan Sabit Merah Palestina, Bulan Sabit Merah Mesir, Aparat Keamanan dan Kehakiman Gaza di Palestina, dan MER-C Indonesia. (Sumber: KBRI Cairo)Ss

Sumber

Umi Saodah Segera Dipulangkan ke Tanah Air

GIANYAR - Umi Saodah, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terjebak di Jalur Gaza, Palestina, dalam waktu dekat akan dapat berkumpul kembali dengan keluarganya di tanah air.

Hal ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda usai melakukan rapat guna membahas Bali Democracy Forum (BDF) di Istana Tampaksiring, Gianyar, Sabtu, (24/1/2009).

"Saya sudah mendapat laporan dari Dubes Mesir bahwa yang bersangkutan sedang dalam proses pemulangan ke Indonesia," tegasnya di Bali.

Artinya, imbuh Wirajuda, perlindungan terhadap warga negara Indonesia di tengah perang yang berkecamuk di Palestina dapat dilaksanakan dengan baik.

"Mungkin dalam beberapa hari ini, TKI kita (Umi Saodah) sudah dapat pulang dan berkumpul dengan keluarganya kembali," harapnya.

Seperti diketahui, Umi Saodah adalah TKI yang bekerja di Jalur Gaza dan sempat ditangkap kepolisian Palestina dan ditahan karena melanggar kontrak.

Namun kasus ini dapat diselesaikan dengan baik dan kini yang bersangkutan telah berada di bawah perlindungan Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Mesir.

Sumber

TKW Terjebak Di Jalur Gaza


Jakarta - Keberadaan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang terjebak di jalur Gaza, Umi Saodah, hilang bak ditelan bumi. Bahkan hingga saat inipun pemerintah belum bisa menemukan jejak TKW asal Semarang itu. Hanya terakhir Umi diketahui ada di penjara.

"Komunikasi di sana (Palestina-red) semuanya terputus. Kondisi obyektif di sana tidak mudah ditempuh," kata Menakertrans, Erman Suparno, saat menemui keluarga korban di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa, (13/1/2009).

Guna menelusuri kebaradaan Umi, Depnakertrans terus melakukan kontak dengan mediator yang berada di Palestina bekerjasama dengan PMI. Pemerintah mengetahui keberadaan Umi terakhir, pada 6 Januari 2009, berada di penjara di Saraya Reform and Rehabilitation Center di Gaza City dengan tuduhan pencurian. Tapi kini penjara itu sudah dikosongkan Israel. "Yang pasti, kabar terakhir Umi masih selamat," tambahnya.

Ditemui Menakertrans, keluarga sangat berharap banyak terhadap usaha pemerintah. Paman Umi,Hanafi, mengaku keluarganya hanya bisa berdoa. "Kami sekeluarga hanya bisa berdoa tapi yang bisa berusaha hanya pemerintah. Ibu Umi sehari-hari menangis apalagi sekarang di sana sedang perang," ungkapnya seraya menahan tangis.

Umi Saodah adalah TKW asal Tlawongan, RT 6/5 Karang Tengah, Tuntang, Semarang. Sejak 2004 majikan tidak menggajinya. Kabar terakhir Umi bekerja kepada keluarga Suhaib Kamal di Jalur Gaza dengan alamat surat PO BOX 1439 Gaza, Palestina.

"Tuduhan pencurian oleh majikannya diduga guna meloloskan kewajiban dari membayar gaji yang ditunggak selama 5 tahun masa kerja, "kata Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah di tempat yang sama.

Umi Saodah: Saya Selamat

Liputan6.com, Jakarta: Umi Saodah, tenaga kerja wanita yang terjebak di Palestina akibat agresi Israel, kini kondisinya baik. "Baik semua," kata Umi kepada reporter Ariyo Ardi melalui sambungan telepon di Liputan 6 Petang, Jumat (23/1). Saat ini, Umi berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, Mesir.

Umi mengaku bisa keluar dari Gaza berkat bantuan polisi Palestina, Palang Merah Internasional, serta KBRI di Mesir. Wanita berusia 33 tahun ini belum tahu kapan kembali ke Indonesia. "Baru diusahakan. Insya Allah secepat mungkin," ucap Umi.

Saat ini, keinginan Umi adalah bertemu dengan orangtua dan keluarganya. "Jangan berpikir banyak, karena saya selamat," pesan Umi kepada orangtua dan keluarganya.

Seperti diberitakan sebelumnya, wanita asal Salatiga, Jawa Tengah, itu sudah delapan tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Palestina. Menurut Umi, dia pernah mau pulang ke Indonesia, tetapi sang majikan bilang tidak ada paspor. "Malah saya dituduh mencuri dan dimasukkan ke penjara," kata Umi. "Dia (juga) tidak mau kasih gaji saya."

Sumber

Tuesday, January 13, 2009

Keluarga Saodah Diminta Melapor

Ungaran (Espos) Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang menunggu laporan resmi dari keluarga Umi Saodah, 34, TKW asal Tuntang, yang kini ditahan di Gaza, Palestina.

Kabid Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Semarang, Johny Purwanto, mengaku belum menerima laporan mengenai musibah yang dialami Umi Saodah itu. Untuk itu, keluarga Umi diimbau segera melaporkan kasus tersebut ke Dinsosnakertrans agar bisa segera diambil upaya untuk mengembalikan tenaga kerja wanita (TKW) asal Dusun Tlawongan RT 6/RW V, Karang Tengah itu.
Diakui Johny yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kabid Penempatan Tenaga Kerja, Dinsosnakertrans tidak bisa berbuat banyak mengenai hal selain melaporkannya ke Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). “Kalau ada TKI yang terkena kasus itu urusannya BNP2TKI, mereka yang melindungi. Kalau mereka membutuhkan data-data akan kami beri,” ujarnya di Ungaran, Sabtu (10/1).
Johny mengatakan, pihaknya baru bisa melangkah jika BNP2TKI sudah berupaya menyelesaikan kasus tersebut. Apabila orangtua korban ingin agar anaknya segera dipulangkan, maka keluarga TKW itu harus mengajukan surat permohonan yang disampaikan ke Dinsosnakertrans. Johny juga memaparkan, Dinsosnakertrans tidak bisa berbuat apa-apa tatkala penyalur jasa tenaga kerja (PJTKI) yang digunakan Saodah adalah PJTKI illegal.
“Kalau itu PJTKI illegal kami tidak bisa masuk. Yang kami urus itu yang resmi. Kami minta tolong kepada penyalurnya untuk memulangkan TKW yang bersangkutan, kalau ilegal sulit. Meski demikian karena itu warga kami, kami akan tetap membantu,” lanjutnya. - Oleh : kha

Sumber

Saturday, January 10, 2009

”Saodah bukanlah pencuri!”

Sidorejo (Espos) Wajah Muh Yusmin, 58, yang sudah banyak kerutan itu tak menampakkan ekspresi apa-apa. Namun dari sorot matanya yang sudah redup, bisa terbaca kegundahan hatinya.

Bibirnya tak mampu berkata-kata ketika dia mengetahui puterinya, Umi Saodah, 34, yang tengah berjuang menjadi pahlawan devisa di Timur Tengah sebagai tenaga kerja wanita (TKW) dikabarkan dirundung kesulitan. Umi disebut-sebut ditahan atas tuduhan melakukan pencurian. Lebih parah lagi, dia ditahan di sebuah penjara di Gaza, Paletina, sebuah negara yang saat ini sedang menjadi arena perang.
Katinem, 56, isteri Muh Yasmin, mengaku sering jatuh sakit karena memikirkan nasib anak pertamanya. Persoalan ekonomi keluarga dan hilangnya anak ketiganya saat ini sudah membuatnya tertekan. Kabar ditahannya Umi, membuat pikirannya semakin terbebani dengan beban yang dia katakan tak sanggup untuk dipikul.
Tuduhan bahwa puterinya melakukan pencurian, sangat tidak bisa dia terima. Menurut wanita paruh baya ini, saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana di RT 6/RW V Dusun Talwongan Desa Karangtengah Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, anaknya tersebut sejak kecil tidak pernah melakukan tindakan tak terpuji apalagi mencuri.
Umi Saodah menurut dia, Selma ini dikenal sebagai anak yang tahu tata krama dan sopan santun. Itu pasalnya, Katinem langsung membantah tatkala anaknya disebut sebagai pencuri.
Komunikasi terakhir yang dilakukan Saodah melalui telepon sudah sekitar enam bulan lalu, saat menjelang puasa. Saat itu ia menceritakan keinginannya untuk pulang ke kampung halaman. Namun masa berlaku paspornya yang sudah habis memupuskan harapannya.
Menurut Katinem, Saodah sudah berulang kali mengeluhkan soal paspor. Majikannya enggan membuatkannya paspor. Ia pun bahkan akan menggunakan paspor dari negara lain agar bisa pulang. “Saya sering diminta untuk membuatkan paspor, katanya dia sudah ingin pulang, tapi kami tidak memiliki uang,” ujar Katinem sambil menangis.
Memang sejauh ini belum ada laporan yang menyebut Saodah mendapat perlakuan buruk, berupa penganiayaan fisik dari majikannya. Namun, Saodah sering menceritakan bahwa majikannya itu, yakni keluarga Dr Suhaib Kamal, sangat pelit. - Oleh : Kaled Hasby Ashshidiqy

Sumber

Identitas TKW yang ditahan di Palestina terungkap

Tuntang (Espos) Misteri tenaga kerja wanita (TKW) asal Jateng yang dikabarkan ditahan di Gaza, Palestina akhirnya terungkap. Wanita yang sebelumnya disebut-sebut bernama Umi Saadah, warga Salatiga, sebenarnya bernama Umi Saodah, 34, warga Tlawongan RT 6/RW V Desa Karangtengah Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang.

Seperti diberitakan SOLOPOS Salatiga Raya (8/1), Duta Besar RI di Kairo, Mesir, Abdurrahman M Fadir, menginformasikan adanya seorang TKW asal Salatiga yang terjebak di kancah agresi Israel ke Palestina. Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Salatiga kesulitan melacak identitas TKW itu.
Kepala Disnakertrans Kota Salatiga, Drs Amien Singgih telah mengklarifikasi tiga PJTKI di wilayahnya namun tak juga memperoleh jawaban memuaskan. Misteri itu terungkap Jumat kemarin. Umi Saodah telah bekerja selama kurang lebih delapan tahun sejak tahun 2000 menggunakan jasa penyalur tenaga kerja asal Jakarta yang diduga ilegal.
Umi merupakan anak pertama dari empat bersaudara hasil pernikahan Muh Yasin, 58, dengan Katinem, 56. Saat ditemui di kediamannya, Jumat (9/1), baik Muh Yasin maupun Katinem yang didampingi seorang kerabatnya, Budi, tak mampu menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Orangtua korban awalnya mengetahui informasi anaknya ditahan di Palestina dari omongan tetangga yang melihat dari media elektronik. - Oleh : kha

Sumber

Monday, January 5, 2009

Kisah Pilu TKI yang Dituduh Menyihir Anak Majikan

JAKARTA - Ruminih binti Surtim (25) dan Tari binti Tarsim (27) tidak pernah menyangka, pilihannya untuk mencari nafkah sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri justru berbuah derita.

Kedua TKW ini harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat mengalami penyiksaan oleh sang majikan yang menuduh keduanya menyihir anaknya sehingga tiba-tiba jatuh sakit.

Ruminih asal Desa Awilea Karang Sari RT 02/01 Kecamatan Angsana Pandeglang, dan Tari asal Desa Rawagempol Wetan RT 21/08 Kecamatan Cilamaya Kabupaten Karawang itu menderita luka-luka memar akibat dicambuk majikannya.

Migrant CARE dalam rilisnya mengatakan, saat keduanya dibesuk oleh Konsuler bersama staf Atnaker KBRI Riyadh dan kepolisian Alfaj pada 8 Agustus 2007, keduanya dikabarkan nampak trauma dan lemah. Dokter Rumah Sakit Alfaz tempat keduanya dirawat mengatakan keduanya akan membaik dan dalam beberapa hari dapat keluar dari ruang ICU.

Dari kesempatan itu, Ruminih dan Tari sempat menceritakan kronologis penyiksaan yang dilakukan majikannya itu.

Keduanya mengaku, penganiayaan dilakukan oleh 7 orang anggota keluarga di mana seorang diantaranya adalah anggota tentara. Mereka menyiksa dengan cara memukul, menendang, dan mencambuk menggunakan tambang, kabel dan igal (ikat kepala sorban).

Penganiayaan dilakukan mulai pukul 22.00-00.10 dan kemudian dilanjutkan dari pukul 02.00 dini hari hingga matahari terbit. Penganiayaan tersebut dilanjutkan kembali pada pagi hari sampai sekitar pukul 13.00. Keempat korban dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 15.00.

Ruminih dan Tari mengaku penyiksaan itu dilakukan karena sang majikan menyalahkan mereka lantaran salah seorang anaknya tiba-tiba sakit. Keluarga majikan menuduh Ruminih dan Tari serta kedua TKI lainnya melakukan sihir.

Akibat penyiksaan itu, Ruminih dan Tari dilarikan ke rumah sakit. Sementara dua TKI lainnya, Susmiyati binti Mat Rabu asal Pati dan Siti Tarwiyah binti Slamet Dimyati asal Ngawi meninggal dunia. Ruminih dan Tari pun sempat dipenjara di tahanan perempuan Malaz.

Ada indikasi bahwa para pelaku hendak menimpakan kesalahan pada satu orang anggota kelompok majikan yang masih berumur sekitar 18 tahun dengan dalih perbuatannya dilakukan secara tidak sadar. Tapi dokter RS Alfaj menyatakan bahwa pemuda tersebut telah diperiksa kesehatan mentalnya oleh tim medis dan dinyatakan tidak mengalami gangguan jiwa

Kisah TKI di Irak


Tiap Malam Mendengar Suara Bom dan Letusan Senapan


Jakarta, CyberNews. Entah bagaimana rasanya, mengais
rezeki di negara yang sedang dilanda peperangan
seperti di Negeri Seribu Satu Malam Irak. Alih-alih
bukan gelimang dinar ataun dolar yang didapat, namun
nyawa bisa jadi taruhannya. Dalam tulisan ini, akan
mengulas pengalaman salah satu Tenaga kerja Indonesia
(TKI) 'alumnus' Irak. Nasibnya cukup beruntung, bila
dinbandingkan dengan sekitar 60-an TKI yang kabarnya
kini masih berada di Irak.

Elli Anita, menceritakan, tanggal 22 Oktober 2006,
dirinya rela meninggalkan keluarganya di Jember,
menuju Timur Tengah atau tepatnya Dubai, Uni Emirat
Arab (UEA), karena tawaran kerja yang cukup
menjanjikan, sebagai Sekretaris di sebuah agensi
penempatan tenga kerja Naswan Labour Supplay. Namun,
cerita manis tersebut kemudian berubah ketika agennya
mulai melakukan pelecehan seksual kepadanya, seperti
memeluk dan memgangnya ketika sedang bekerja.

Meresa diperlakukan tidak senonoh, Elli meminta pindah
kerja, namun ditolak oleh agennya. Permintaan tersebut
dapat diluluskan bila dirinya bersedia tidur dengan
sang agen, yang langsung ditolaknya mentah-mentah.

Dua bulan kemudian, permohonan tersebut diloloskan,
dengan konsekuensi tidak mendapatkan gaji, selama
bekerja di Dubai. Tanggal 18 Desember 2006, Elli
dijanjikan agensinya, diperkerjakan di hotel atau
retoran yang terdapat di negara yang sedang
berkembang, dekat Italia. Namun, perasaan lega lepas
dari bayangan pelecehan, tidak membuat hidupnya lebih
baik.

Ternyata bukan, negara dekat Italia yang ditujunya,
dia malah diperkerjakan sebagai pembantu rumah tangga
di daerah Kurdistan, Irak. ''Saya tidak tahu kalau itu
Irak. Seminggu setelah sampai disana saya baru 'ngeh'
itu Irak. Saya bekerja di rumah majikan seorang
pejabat di sana,'' ujar Elli.

Bekerja di negara yang menjadi arena peperangan
mencuatkan perasaan kawatir di benaknya. Elli mengaku,
suara bom dan senapan, menemaninya tiap malam. Tidak
hanya itu serpihan daging manusia menjadi pemandangan
yang biasa dilihatnya.

Tiga bulan berada di Irak, pihaknya lantas menghubungi
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dubai.
Pasalnya dirinya sadar, sebagai TKI yang pernah
bekerja di Dubai, data-datanya pasti masih tercatat di
sana. Pejabat KBRI di Dubai yang khusus menangani TKI
ilegal dan trafficking, Dede Ahmad Rifai, yang
berhasil dihubunginya, tidak banyak membantunya. bukan
jalan keluar yang ditawarkannya, namun malah
menyalahkan dia, karena bekerja di Irak.

''Dia (Dede) bilang tidak bisa bantu, karena saya
berada di Irak, kalau berada di Dubai dia mengatakan
baru bisa bantu. Kalau saya di Dubai, saya kan pasti
tidak minta bantuan kepadanya,'' serita Elli.

Walaupun begitu, dia mengaku masih cukup beruntung,
pasalnya di tempat majikannya, terdapat layanan
internet yang dapat digunakannya, tentunya dengan
mencuri-curi waktu saat malam tiba. Melalui internet,
pihaknya menceritakan nasibnya yang ingin keluar dari
Irak. Kemudian, datang respon dari tanah air, yakni
Police Analyst Migrant Care, Wahyu susilo.

Melalui adik kandung aktivis yang juga penyair buruh
Wiji Tukul, yang hilang sesaat sebelum reformasi ini,
Elli mendapatkan nomor kontak Direktur Perlindungan
WNI dan Badan Hukum Indonesia Departemen luar Negeri
(Deplu) Teguh Wardoyo.

Lewat Teguh, dia meminta bantuan agar segera
dikeluarkan dari Irak. Tidak berbeda dengan sat
menghubungi Dede Ahmad Rifai, pejabat Deplu tersebut
hanya menyuruhny untuk sabar menunggu bantuan. Setelah
ditunggu beberapa lama, nasibnya tidak kunjung jelas,
Elli bercerita kemudian menghubungi pihak KBRI di Aman
Yordania, dan Walid Getek, pejabat di kedutaan
Indonesia di Baghdat Irak.

''Pak Arya dari KBRI di Aman, kalau dihubungi
jawabannya sangat menjanjikan, menurutnya tiket sudah
diurus, dan tiga minggu lagi dapat keluar dari Irak.
Tapi semuanya tidak bisa dipercaya,'' ungkap Elli.

Nasibnya yang tidak jelas, lantas membuat Elli kembali
menghubungi Teguh, yang juga membuatnya kecewa.
''Bilangnya dia, pemerintah Indonesia sudah kirim
tentara, untuk membantunya, namunkatanya tertembak
tentara Amerika. Saya disuruh menunggu sebentar lagi,
pokonya alasannya sangat tidak masuk akal.''

Namun, Teguh sempat memberi alternatif lain kepadanya
untuk menghubungi International Organization for
Migrant (IOM). Lantas bersama ketiga temannya,
pihaknya mencari alamat IOM tersebut. Sebelumnya
pihaknya, sempat meminta kepada majikannya untuk
mengembalikannya ke Indonesia.

Permintaan tersebut tentu ditolak sang majikan telah
mengeluarkan ribuan dolar untuk mengambilnya dari
agensinya yang juga mengambilnya dari, Naswan Labour
Supplay, Bruska. Namun, untuk meluluhkan hati
majikannya, dirinya bersedia tidak makan dan minum
selama beberapa hari. Untungnya, di saat yang
bersamaan, majikannya tersebut mendapatkan
penggantinya.

Oleh sang majikan, lanjut Elli, kemudian dirinya
dikirim kembali ke Bruska. Namun, bersama ketiga
temannya dirinya berhasil kabur dari agensi tersebut.
Setelah berhasil lolos, dia yang kini bersama dengan
teman-temannya, yakni Custini, Siti Julaeha, dan Aan
Fatonah, melanjutkan pencarian kantor IOM.

Setelah berjalan, tiga hari, tiga malam untuk
menemukan tempat yang ditujunya, bukan berarti mereka
dapat lega. IOM hanya dapat membantu dengan syarat dia
bersama ketiga temannya dapat menunjukkan dokumen
resmi.

''Mereka mengtakan seperti itu. Mendengar itu, kami
lemas dan memohon untuk setidaknya dapat tidur di
tempat IOM, karena kalau kembali ke agen Bruska, kami
kawatir dihajar. kemudian kami harus kembali ke
Bruska, namun mereka tidak mau memberikan paspor,
karena menurut mereka telah membeli kami dengan harga
2.500 dolar AS dari Agen Naswan,'' kenang Elli.

Lewat bantuan IOM, akhirnya pada tanggal 7 November
2007, pihaknya dapat diterbangkan ke tanah air.
''Ketika di bandara Soekarno Hatta, saya dijemput Ibu
Meutia Hatta (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan),
dari pihak Mabes Polri, IOM, Migrant Care, dan banyak
lagi,'' katanya dia.

Sesampainya di tanah air, pihaknya kemudian bergabung
dengan Migrant Care, karena pengalamannya menjadi
korban sehingga tidak ingin hal itu etrus terulang TKI
yang lain.


(Wahyu Wijayanto /CN09)

Design by Free blogger template