Showing posts with label TKI Arab Saudi. Show all posts
Showing posts with label TKI Arab Saudi. Show all posts

Saturday, January 24, 2009

Pembunuhan Brutal 2 TKI di Arab, Hadiah 17-an HUT RI 62

Masih seputar tujuhbelasan. Tepat di hari perayaan kemerdekaan kemarin Human Right News menghadiahi berita pembunuhan brutal yang dialami 2 TKI di Arab Saudi: Siti Tarwiyah Slamet, 32 tahun, dan Susmiyati Abdul Fulan, 28 tahun. Sementara dua rekannya, Ruminih Surtim, 25 tahun, and Tari Tarsim, 27 tahun, masuk unit gawat darurat di rumah sakit Riyadh Medical Complex.

Mereka mengalami penyiksaan sadis karena dituduh menyantet anak laki-laki majikan mereka. Tiga bulan lalu, seorang TKI di provinsi al-Qasim dihukum 10 tahun penjara dan 2000 hukuman cambuk sebagai ganti dari hukuman mati. Kedutaan Indonesia di sana, konyolnya, baru mengetahui peristiwa itu satu bulan sesudahnya. Tidak ada pendampingan atau upaya pembelaan.

Menurut catatan, terdapat sekitar dua juta perempuan dari Indonesia, Sri Lanka dan Pilipina yang sekarang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab.

Berita ini menambah barisan pahlawan devisa yang pulang tinggal nama. Bukan di medan perang. Tetapi di sebuah Negara terhormat Arab Saudi. Sekaligus kasus barbarian ini menunjukkan kegagalan kedua pemerintahan baik Indonesia maupun Arab untuk melindungi warga negara.

TKI, pahlawan devisa atau apapun istilahnya adalah julukan terhormat, sekaligus menutup-nutupi realita dan fakta bahwa mereka “cuma” babu, pembantu rumah tangga yang tidak punya harga. Pekerjaan mencuci piring, mengepel dan membersihkan kakus rupanya telah menjadi pekerjaan kelas kambing. Pekerjaan-pekerjaan kasar semacam itu tidak bisa lagi dilakukan oleh warga negara aristokrat, di negara yang berlimpah minyak dan dolar.

Apa yang dirasakan keluarga Siti, Susmiyati, Ruminih dan Tari mendengar berita semacam ini? Ada linangan air mata yang tidak tahu kapan akan berakhir. Mimpi buruk yang akan menghantui mereka selama bertahun-tahun. Perasaan marah yang tak punya saluran pelampiasan. Dan barangkali sedikit penghiburan dari tetangga dan sanak saudara. Menaruh sejumput uang tanda duka cita. Lalu melupakannya sebagai sebuah kisah sedih.

Saya tidak yakin, apakah akan ada aksi sejuta umat, aksi sejuta tanda tangan, kedutaan yang di demo. Karena cerita tentang empat sekawan ini adalah aib di muka sendiri. Sebuah propaganda yang mengganggu agenda-agenda politis mereka.

Rakyat dan umat, jangan disodori cerita beginian dong ah! Maluuuuuu ana.

Tragis! (Maaf, kata “Merdeka” tak layak diteriakkan di sini)


Sumber

Sunday, January 18, 2009

Jenazah TKI Subang Dipulangkan Ke Indonesia

Jakarta - Rani Eman Kaling meninggal dunia secara mendadak di Arab Saudi. Jenazah TKI asal Subang ini akan diterbangkan dari Arab Saudi ke Indonesia pada 10 September 2008.

Jenazah Rani dipulangkan ke tanah air dengan pesawat Saudi Arabia Airlines SV 814 dan diperkirakan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 13.00 WIB.

Demikian rilis yang diterima detikcom dari Migrant CARE pada Rabu (10/9/2008).

Keluarga akan meminta jenazah Rani diotopsi untuk mengetahui penyebab kematian Rani. Keluarga juga mengaku hingga kini belum menerima surat resmi tentang penyebab kematian Rani baik PT. Binhasan Maju Sejahtera yang memberangkatkannya maupun Deplu dan KBRI Riyadh.

Rani, warga asal Dusun Bungurgede RT 02 Rw 05 Desa Sukahaji, Ciasem, Subang, Jawa Barat meninggal dunia di Arab Saudi pada tanggal 10 Agustus 2008. Rani bekerja sebagai PRT pada majikan yang bernama Isa Saud Al Durwais.

Sumber

Lagi, TKI Indonesia Disiksa

Jakarta, BNP2TKI (13/1) Suniati, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Cilacap, saat tengah berada di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Sumeisyi, Riyadh, Arab Saudi. Menurut Muhammad Sugiarto, Kepala Bidang Ketenagakerjaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Suniati hingga kemarin belum bisa ditanyai.

"Hari ini sudah bisa duduk dan tidak demam lagi," kata Maria Theresia Jehan Da Gomez, perawat penyelia berkebangsaan Indonesia yang bekerja di RS Sumeisyi, kemarin.

Menurut Maria, korban masih menunjukan trauma. "Kalau tidak dibawa kesini, saya khawatir dia bisa sinting," ujarnya

Luka fisik Suniati menurut Maria amat parah. Seluruh tubuh mengalami luka bakar karena siraman air panas, terdapat pula bekas setrika, cambuk, dan bekas irisan pisau di wajah korban. "Mukanya sudah tidak berbentuk lagi, padahal dari fotonya, ia berparas cantik," kata Maria.

Korban dirawat sejak Rabu (6/4) malam menjelang dinihari waktu setempat. "Majikannya sendiri yang mengantar," kata Sugiarto, "Majikannya kini sudah ditangkap," lanjutnya.

Sugiarto mengungkapkan berdasarkan laporan dari seorang staf kedutaan perempuan yang telah melihat kondisi tubuh Sunaiti secara menyeluruh, kondisi TKW kelahiran Cilacap 37 tahun lalu itu sangat mengenaskan..

"Kemaluannya sudah tak berbentuk. Untuk kejelasannya, kami menunggu keterangan tim investigasi," katanya.

Pihak KBRI, menurut Sugiarto, telah mengirim nota diplomatik pada Kementrian Luar Negeri Arab Saudi untuk meminta klarifikasi, dan meminta pelaku diusut dan dihukum sesuai aturan yang berlaku.

Tuesday, January 13, 2009

Indonesia Tuntut Warga Saudi Penyiksa TKI

Jakarta (ANTARA News) - Menakertrans Erman Suparno menyatakan pemerintah akan menuntut majikan Keni (28 tahun), TKI asal Brebes yang disiksa di Arab Saudi dan akan bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi di Indonesia untuk membahas masalah itu.

"Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Penyiksaan ini melebihi batas-batas kemanusian. Saya akan berkoodinasi dengan Departemen Luar Negeri RI dan KBRI untuk mengambil langkah tegas berupa penuntutan hukum terhadap majikannya," tandas Erman dalam siaran pers Depnakertrans di Jakarta, Kamis.

Keni adalah warga Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Brebes, Jawa Tengah. Dia disiksa oleh majikan perempuannya di Madinah, Arab Saudi, selama tiga bulan, dan kini sudah berada di Indonesia

Saat dijenguk Erman di RS Polri Kramat Jati, Keni sudah membaik di mana luka-lukanya mulai mengering dan tampak keloid dibekas lukanya.

Kedua kuping Keni hampir putus dan lidahnya telah diiris pisau sehingga kondisinya sangat memilukan.

Erman berjanji segera bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia guna membahas berbagai masalah, tidak haya Peni, namun juga keselamatan dan perlindungan TKI yang bekerja di Arab Saudi.

"Kita harus mencari solusi terbaik agar penyiksaan yang kerap dialami TKI di luar negeri dihentikan secepatnya," kata Erman.

Menteri juga akan meminta perusahaan jasa TKI yang menempatkan Keni segera mengurus asuransinya, meskipun biaya perawatan Keni sudah ditanggung pemerintah.

Untuk meringkankan beban Keni, Menakertrans menyarankan Keni tak perlu lagi bekerja di luar negeri sebagai TKI dan menjanjikan pemerintah akan memberi bantuan wirausaha untuknya di tanah air.

Menakertrans juga akan berkoordinasi dengan Departemen Sosial dan Departemen Luar Negeri agar Peni bisa menjalani operasi plastik.

Keni, ibu satu anak, meminta Erman menuntut majikannya. "Tolong saya Pak Menteri, tuntut majikan saya agar tidak ada lagi TKI yang bernasib seperti saya," katanya memohon.

TKI lain bernama Sunaeni, asal Indramayu, dikabarkan juga telah disiksa majikannya. Keduanya mengalami nasib sial pada keempat kalinya bekerja di luar negeri

Keni Dibakar Oleh Majikan

Gaji Rp 6 juta yang diterima Keni (28) agaknya tidak akan pernah
sebanding dengan penderitaan yang dialaminya.

Keni, tenaga kerja Indonesia asal Desa Losari Lor, Kecamatan Losari,
Brebes, Jawa Tengah, disiksa oleh majikan perempuannya di Madinah,
Arab Saudi, selama tiga bulan. Dia kini dirawat di RS Polri Sukanto,
Kramat Jati, Jakarta Timur.

Luka-luka Keni memang sudah mulai kering. Namun, keloid yang muncul di
bekas-bekas luka dan bentuk kedua kupingnya yang berubah akan menjadi
tanda sepanjang umur Keni dan orang-orang di sekitarnya atas kekerasan
yang dialami Keni.

Dari penuturan Keni, kekerasan yang dilakukan Wafa, majikan
perempuannya, dimulai setelah satu bulan dia bekerja pada keluarga itu.

"Majikan marah kalau saya tidak bisa membersihkan ruangan dalam waktu
setengah jam. Padahal ruangannya banyak. Rumahnya saja tiga lantai,"
tutur perempuan yang sudah memiliki satu anak berusia tiga tahun ini.

Setiap marah, Wafa lalu menarik Keni dan membawanya ke ruang setrika.
Setrikaan yang telah dipanaskan oleh Wafa lalu ditempelkan ke tubuh
Keni. "Setiap kali menyetrika tubuh saya, dia lalu mengobatinya. Dia
punya lemari obat-obatan yang besar. Tetapi besoknya, kalau marah, dia
menyetrika saya lagi," cerita Keni.

Luka bakar yang diderita Keni hampir menutupi seluruh tubuhnya. Kedua
kuping Keni tampak mengerut. Leher, kedua tangan, dada, perut,
punggung, dan kaki, semua tidak luput dari kebengisan Wafa.

Selain menyetrika, Wafa juga memukul Keni, mencongkel gigi depan Keni,
kemudian memaksa Keni untuk menelannya, dan juga tidak memberi makan
yang cukup bagi Keni.

Keni mengaku tidak bisa melarikan diri karena rumah majikannya selalu
terkunci. Dia baru bebas ketika majikan laki-lakinya, Khalid Al
Khuraifi, mengetahui perbuatan istrinya. Keni lalu dipulangkan ke
Indonesia. Namun, ketika pulang, Keni dipakaikan baju dan cadar yang
tertutup sehingga luka-luka yang ada di kulitnya tidak ditahui oleh
pihak keamanan di bandara.

Ketika Keni akan pulang, majikan memberikannya gaji Rp 6 juta.
Padahal, Keni telah bekerja selama 4,5 bulan dan gaji per bulannya Rp
2 juta. "Alasannya, gaji saya dipotong untuk biaya tiket pesawat,"
kata Keni.

Charmiah (48), ibunda Keni, ketika ditemui di RS Polri terus-menerus
menangis melihat kondisi anak tunggalnya itu. "Anak saya berangkat
cantik, kenapa sekarang bisa begini. Saya minta pelakunya dihukum
setinggi-tingginya," kata perempuan yang sehari-hari berdagang bahan
pokok di Pasar Losari ini.

Charmiah mengaku, dia tidak mengizinkan Keni bekerja di luar negeri.
Namun, Keni harus bekerja karena suaminya, Saifudin, tidak memiliki
pekerjaan tetap. Dia lebih sering menganggur daripada bekerja.
Charmiah meminta Keni membantunya berdagang saja. Namun, Keni menolak.
Dia memaksa dengan alasan mencari pengalaman selagi masih muda.

"Tidak tahunya pengalaman yang didapat adalah pengalaman buruk,"
tangis Charmiah.

Menurut Charmiah, sebelum bekerja kepada Wafa, Keni pernah bekerja dua
tahun di Arab Saudi. Namun, selama dua tahun bekerja, Keni tidak
pernah mengirimkan uang gajinya kepada keluarga. "Tidak tahu uangnya
ke mana. Kata dia, belum dibayar majikannya."

Nirmala Bonat ke-2

Jamaluddin, Koordinator Advokasi Serikat Buruh Migran Indonesia
(SBMI), menyayangkan kekerasan yang dialami Keni ini tidak diumumkan
oleh pemerintah. "Keni sudah tiga bulan dirawat di RS Polri dan tidak
sekali pun pemerintah terbuka mengenai masalah ini," kata Jamaluddin.

Dia menilai pemerintah selalu bertindak lambat dan cenderung menutupi
kejadian yang menimpa warganya yang berada di luar negeri.

"Kasus Keni menjadi kasus Nirmala Bonat ke-2, TKI yang disiksa di
Malaysia. Kasus Nirmala sendiri membutuhkan waktu empat tahun untuk
memberikan hukuman kepada majikannya," kata Jamaluddin.

Dengan kasus yang menimpa Keni ini, SBMI menuntut Pemerintah Indonesia
mengajukan nota protes diplomatik kepada Pemerintah Arab Saudi dan
mendesak Pemerintah Arab Saudi mengusut tuntas kasus Keni sesuai hukum
yang berlaku di Arab Saudi.

"Proses pengadilan untuk kasus penyiksaan terhadap TKI sangat
melelahkan. Bahkan, banyak kasus yang terhenti proses penyidikannya,"
tegas Jamaluddin yang bertemu dengan Keni tanpa sengaja di RS Polri.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengamanan Deputi Perlindungan
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Komisaris
Besar Yunarlim Munir mengatakan, BNP2TKI telah bekerja sama dengan
perwakilan di luar negeri untuk mengusut tuntas kasus ini.

"Majikannya menyatakan sanggup membiayai pengobatan Keni hingga
sembuh. Namun, kasus hukumnya kami serahkan kepada Pemerintah Arab
Saudi," kata Yunarlim.

Dia juga mengatakan, saat ini majikan perempuan Keni telah diperiksa
penyidik. "Proses pemeriksaannya belum selesai. Jadi belum tahu kapan
persoalan ini akan dibawa ke pengadilan," kata Yunarlim.

Dia menambahkan, saat ini ada sekitar enam juta TKI yang bekerja di
luar negeri. Dari jumlah itu, yang mengalami penyiksaan tidak banyak.
"Saya tidak tahu jumlah pastinya, tetapi angkanya kecil hanya 0,0
sekian persen," kata Yunarlim.

Jamaluddin mengatakan, jumlah TKI yang mempunyai masalah di luar
negeri cukup banyak. Dari 1.000 TKI yang pulang setiap hari, sekitar
100 orang mempunyai masalah. Namun, masalahnya beragam

Monday, January 5, 2009

TKI menjadi Penipu

PAM Daker Makkah Pindahkan Penipu Jemaah Haji ke Konjen RI

Makkah (ANTARA News) - Satuan Pengamanan Daerah Kerja (PAM Daker) Makkah, pada Selasa memindahkan Zuhri bin Warnali, pria asal Brebes, Jawa Tengah, yang sebelumnya mendekam di tahanan Daker setempat lantaran berbagai kasus penipuan dan pemerasan terhadap jemaah haji Indonesia ke Konsulat Jenderal RI di Jeddah.

Kepala satuan pengamanan (PAM) Makkah, AKBP Agus Purwoto, di ruang kerjanya mengatakan bahwa pihaknya memindahkan Zuhri ke Konjen RI di Jeddah guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, ia tak menjelaskan apakah nanti pelaku dibawa ke Indonesia atau diserahkan ke polisi di Saudi Arabia. Pelaku yang mengenakan baju batik, jaket hitam, sebelum digiring ke Konjen RI Jeddah terlihat melakukan shalat di ruang sel pinjaman milik ruang rawat inap penyakit jiwa Daker Makkah.

Ia terlihat lemas, namun sorot matanya terlihat tajam.

"Ah, ini yang rusak nama bangsa," ujar soerang petugas di Daker Makkah.

Dari hasil pemeriksaan di PAM Daker Makkah, tersangka mengakui melakukan pemerasan, penipuan dan pemalsuan identitas diri.

Agus sebelumnya mengatakan, tak ingin cepat-cepat menyerahkan Zuhri ke polisi Arab Saudi di Makkah.

"Kita masih ingin mengembangkan lagi," ujar Agus.

Zuhri, yang lahir di Brebes pada19 Maret 1979, dan selama ini mengaku bermukim di Sulaimaniah, Makkah, bersama tujuh orang rekannya telah banyak melakukan tindakan tercela.

Dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP), menurut AKBP Agus Purwoto, pria lajang tersebut sudah beberapa kali melakukan penipuan. Zuhri pun tertangkap di pintu Marwah, Masjidil Haram, Makkah, tatkala tengah mencari mangsa.

Ketika itu, Zuhri tengah duduk di teras. Saat itu salah seorang PAM Mekkah curiga lantaran gelang yang digunakan berbeda dengan jemaah Indonesia lainnya. Saat didekati, dan dimintai secara persuasif, yang bersangkutan mengaku mengenai keberadaannya, sehingga akhirnya dibawa ke pos khusus Masjidil Haram.

Dari hasil pemeriksaan, Zuhri mengaku pernah melakukan penipuan dengan pura-pura sebagai petugas dan menunjukkan jalan bagi jemaah yang tersesat ke pemondokan. Di tengah jalan, ia mengakui, meminta imbalan, dan jemaah yang tersesat ditinggal di jalan begitu saja.

Dari pura-pura membantu jemaah tersesat, Zuhri biasanya meminta imbalan hingga 200 real. Kasus serupa, diakuinya, sering pula dilakukan ketika berada di Madinah, dan pura-pura membantu jemaah sesat kemudian meminta imbalan 100 real. Pada 1 Desember 2007, ia mengaku, mencuri 1.000 real, dan total ia meraup mencapai 1.800.000 real.

Selain itu, dia pun mengakui, mengambil jasa dari jemaah yang akan melaksanakan umroh sebesar 3.122 real, serta dana dam 70 real.

Menurut Agus Purwoto, tersangka dalam melaksanakan aktivitasnya mengenakan identitas atas nama Syahrudin, rekan sepemondokan. Identitas rekannya itu diganti fotonya.

Dari hasil pemeriksaan, pihak PAM telah mendapati barang bukti uang 4.922 real, gelang identitas tahun 2003 atas nama Kait bin Thalib, dua buah handphone, igoma (KTP) setempat, kartu telepon seluler (sim card), dompet dan tasbih.

Tersangka juga diduga melakukan penipuan sebagai "joki" bagi jemaah untuk mencium Hajar Asward. Untuk kasus ini, pihak PAM Daker Makkah masih terus mendalaminya, sehingga Zuhri dibawa ke Jeddah.

Menjelang puncak pelaksanaan haji, banyak orang menawarkan kemudahan jasa kemudahan mencium Hajar Aswad. Mereka bergerak secara berkelompok dan meminta imbalan uang.

Kisah TKI Sukses Siti Musrofa

Indramayu (SIB)
Siti Musrofa (41) bisa dibilang TKI yang sukses. Selama 2 tahun mengadu nasib di Arab Saudi, perempuan asal Indramayu ini mampu membeli 2 rumah elit dan 4 mobil.
Pengamatan detikcom, rumah Siti tampak mencolok dibandingkan rumah milik tetangganya. Rumah Siti berlantai 2 dan bangunannya setaraf dengan rumah-rumah elit di kawasan Jakarta Selatan.
Mobil milik Siti terlihat diparkir berjejer di halaman rumahnya. “Alhamdulillah dari hasil kerja saya di luar sudah bisa membangun rumah dan membeli 4 mobil travel,” kata Siti kepada wartawan di kediamannya, Jalan Mawar, Sukareja Balongan, Indramayu, Kamis (11/9).
Wartawan mendapat kesempatan ikut BNP2TKI keliling Pulau Jawa sejak Selasa 9 hingga 19 September 2008.
Siti mengaku bekerja di Arab Saudi sejak tahun 1984-1986. Uang hasil keringatnya pun dikumpulkan. “Pada saat itu gaji saya Rp 250.000 per bulan. Alhamdulillah sudah bisa menyekolahkan anak saya” kata ibu 2 anak ini.
Siti pun banting stir membuka usaha setelah berhenti menjadi TKI. Dia membuka usaha untuk memberangkatkan TKI sejak tahun 1994-1995. “Saya setiap bulan bisa memberangkatkan 150 TKI,” ujarnya.

Design by Free blogger template